GRID_STYLE
TRUE

Breaking News

latest

Advertisement

Apa Arti Ular dalam Lambang Dunia Kedokteran?

Halo sobat Opedi, apa kabar sobat kali ini? Opedi doakan agar selalu diberi kebugaran oleh sang maha pemberi sehingga dapat menjalani...

    Halo sobat Opedi, apa kabar sobat kali ini? Opedi doakan agar selalu diberi kebugaran oleh sang maha pemberi sehingga dapat menjalani aktivitas dengan performa 100%. Untuk yang sedang kurang sehat jangan lupa melakukan pencegahan dengan mengunjungi dokter salah satunya, apapun itu penyakitnya sobat harus tetap waspada. Berbicara soal dokter pastinya sobat Opedi sekalian sudah amat familiar dengan lambang dunia kedokteran. Ya, lambang dengan sebatang tongkat dan ular yang melingkarinya. Wah...apa hubungannya ya tongkat dan ular yang melingkar itu dengan dunia kedokteran? Opedi yakin, pasti ada di antara sobat yang bertanya-tanya seperti itu. Penasaran bukan? Mau tahu jawabannya? Simak yang berikut ini.
    Sebagaimana gambar yang Opedi tampilkan di atas, terdapat dua jenis lambang yang dijadikan simbol dunia kedokteran, yaitu caduceus dan asclepius. Hal ini pun ternyata serupa dengan jawaban para pakar kedokteran. Bilamana ditanya sehubungan dengan nama dari lambang tersebut maka sebagian akan menjawab ‘caduceus’ (kanan pada gambar) dan sebagian lainnya menjawab ‘asclepius’ (kiri pada gambar).

    Asclepius
    Sebenarnya nama Asklepios itu sendiri adalah nama dari seseorang yang dijuluki sebagai dewa pengobatan dan penyembuhan dalam mitologi Yunani. Asklepios mewakili aspek penyembuhan dari seni pengobatan, sementara putri-putrinya Hygieia, Meditrina, Iaso, Aceso, Agl├Ža dan Panacea melambangkan kekuatan dari kebersihan, obat, dan penyembuhan. Dalam mitologi Romawi dia dinamakan sebagai Vediovis. Alkisah dahulu Asclepius pernah menghidupkan orang yang sudah mati dan oleh karenanya Asclepius dibunuh Zeus dengan sambaran petir.

    Konon ketika melakukan pengobatan atau penyembuhan Asklepios selalu membawa tongkat kayu miliknya yang dililit oleh seekor ular. Hal inilah yang kemudian dijadikan sebagai simbol rujukan dunia kedokteran di era modern. Indonesia menjadi salah satu negara yang memakai lambang asclepius sebagai simbol dunia kedokteran di indonesia.

    For Lambang dunia kedokteran di Indonesia:

    Caduceus
    Lain halnya dengan Asclepius, caduceus adalah tongkat yang digenggam Hermes, yang juga dianggap sebagai dewa asal Yunani yang melindungi para pedagang. Karena peranannya sebagai pelindung para pedagang maka kemudian tongkat Hermes ini dijadikan simbol tradisional dari Hermes (dewa pada mitologi yunani kuno) yang berupa dua ular yang melilit sebuah tongkat bersayap dua. Simbol dua ular caduceus yang melilit batang kayu dimasa lampau diasosiasikan dengan perdagangan, kelancaran berbicara, tipu daya, dan negosiasi. Sedangkan dalam perkembangannya dari waktu ke waktu caduceus ketika dihubungkan dengan obat-obatan dan dunia medis senantiasa diasosikan dengan alkimia dan kebijaksanaan.

    Hermes merupakan dewa pembawa pesan dalam mitologi Yunani. Berbeda dengan Asclepios yang memang dijuluki sebagai dewa penyembuhan. Hermes dilahirkan di Gunung Kellina di Arkadia. Hermes adalah anak dari Zeus dan Maia dan merupakan salah satu dewa Olimpus. Pada umumnya, Hermes digambarkan dengan topi bersayap (petasus), sandal bersayap (talaria), dan tongkat bersayap yang dililit ular (caduceus).

    Jadi simbol dunia kedokteran yang sebenarnya adalah ‘Aclepius’. Namun karena sudah terjadi kesalahan dokumentasi, kerancuan dan kesalahan persepsi, maka simbol ‘caduceus’ justru dipakai secara luas di kawasan Amerika Utara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Memang terdapat kesamaan antara tongkat milik Asklepios dan tongkat milik Hermes, yang membedakan hanya tongkat milik Hermes bersayap sehingga kemungkinan ini yang menyebabkan terjadinya kesalahan persepsi. Berdasarkan dokumentasi sejarah modern, simbol caduceus pertama kali digunakan oleh korps medis militer Amerika Serikat di tahun 1902.

    Mengapa dipakai lambang ular untuk merujuk pada seni pengobatan dan kedokteran ini?  Selain fenomena tongkat milik Asclepios dan Hermes, ada sebuah cerita menarik yang mendukung terbentuknya ular sebagai lambang seni pengobatan. Pada zaman Hippocrates (bapak kedokteran), mereka yang sakit akan ditempatkan pada kuil penyembuhan (healing temple) yang diberi nama ‘asclepion’. Di sana terdapat ular berkeliaran. Ular tersebut tak berbisa dan dipelihara sebagai bagian dari ritual penyembuhan para pasien. Konon bisa (racun) ular menyimbolkan kehidupan dan kematian. Racun ini bila memasuki pembuluh darah akan mematikan (fatal), tetapi bila diminum dapat menjadi obat penawar untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

    Sejarah yang merujuk pada kuil pengobatan zaman Yunani kuno ini tidak serta merta diakui oleh semua pakar sejarah kedokteran. Ada teori lain yang diyakini sebagai asal-usul lambang tongkat dan ular ini. Dia berasal dari penyakit cacing pita yang banyak menjangkit manusia berabad-abad yang lalu, khususnya di kawasan Mediterania dan benua Afrika. Nama cacing pita ini adalah Dracunculus medinensis yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi little dragon from Medina karena di kota Medina penyakit ini dahulu banyak berjangkit, dan nama awamnya adalah Guinea worm, karena dahulu cacing ini banyak berkembang biak di pantai Guinea, Afrika Barat.

    Penyakit guinea worm ini sangat mengerikan. Setelah larvanya masuk ke dalam perut melalui air minum yang tercemar, maka dia tumbuh menjadi cacing pita dewasa. Cacing pita jantan biasanya akan mati, tetapi cacing pita betina yang bisa mencapai panjang hingga satu meter, akan menembus dinding usus dan berkelana sampai di bawah permukaan kulit. Di situ dia akan membuat borok yang menimbulkan rasa nyeri yang teramat. Melalui lubang di borok ini, guinea worm akan mengeluarkan sebagian dari anggota tubuhnya untuk bertelur. Lokasi lubang borok ini biasanya di kaki, di lengan, di batang tubuh (torso), di pantat dan alat kelamin.

    Anggota tubuh cacing yang menjulur sebagian ini tak mudah untuk ditarik keluar dengan tangan penderitanya secara utuh. Bilamana badannya terputus sebagian di dalam badan si penderita, maka akan menimbulkan infeksi beracun yang mengakibatkan artritis bila terjadi di persendian dan kelumpuhan bila terjadi di sumsum tulang belakang.

    Oleh karenanya, untuk ’memancing’ cacing pita ini, penduduk setempat memakai cara tradisional yang dianggap ampuh sejak beratus tahun yang lalu. Anggota tubuh cacing pita yang menjulur keluar dari lubang borok ini dipilin dengan sebatang ranting kecil. Secara berkala, ranting ini digulung dengan berhati-hati sehingga semakin lama semakin banyak anggota badan cacing ini yang tercabut. Persis seperti menggulung benang layang-layang. Pada fiksi ’Dutch Wife’ karangan Eric McCormack, dilukiskan dengan realistis seorang penjual buah di pasar bertelanjang dada dan sesekali jari tangannya memilin ranting kecil yang seakan menempel di perutnya.

    Inilah kutipan narasi novel ’Dutch Wife’ mengenai ’guinea worm’: One morning early we went down to the market. At the busiest fruit stall, the stallkeeper was a big man, naked to the waist. He had a twig, a few inches long, somehow stuck to the surface of his belly. While he was talking to my friend about the freshness of the cantaloupes and the oranges, his fingers would occasionally go to the twig. He’d give it a little slow twirl, the way you wind a wristwatch. (Suatu pagi kami pergi ke pasar. Di kios buah penjualnya yang berbadan besar bertelanjang dada. Ada ranting berukuran beberapa inci yang nampak menempel di perutnya. Sembari dia menawarkan buah kantalop dan jeruk, sesekali jarinya meraba ranting kecil itu. Dia akan memilinnya perlahan-lahan, seperti kalau kita memutar tombol arloji).

    Konon gambaran ranting kecil dan cacing yang terlilit di situ yang menjadi ilham untuk simbol dunia kedokteran. Penyakit yang sudah menjangkiti manusia berabad-abad lamanya ini kini sudah hampir dapat dieradikasi. Berkat kampanye Badan Kesehatan Dunia yang tak kenal lelah, dracunculiasis (sebutan untuk penyakit cacing Dracunculus medinensis) sudah hampir hilang dari muka bumi. Mungkin dengan dijadikannya sebagai simbol kedokteran kita bisa mengenang bahwa dahulu pernah ada penyakit menyeramkan yang disebabkan oleh guinea worm.

    Nah itu dia sedikit cerita yang berkembang mengenai asal-usul terbentuknya lambang dunia kedokteran di dunia, semoga dapat menginspirasi sobat Opedi untuk selalu terbiasa hidup sehat dan senantiasa bersama-sama memberantas penyakit. Bukan hanya menjadi tugas para dokter semata yang menyembuhkan penyakit, yang terutama adalah sobat Opedi sendiri yang mengupayakan pencegahan dari berbagai penyakit.

    Tidak ada komentar

    Opedi memerlukan kritik dan saran dari sobat Opedi demi kelangsungan blog ini.
    Buat yang sekadar ingin komentar dipersilahkan.
    Budidayakan berkomentar dengan perkataan yang baik.

    Advertisement